Udah 3 Tahun Usulkan Pembangunan Jembatan, Pemerintah Tutup Mata

228

NATUNATERKINI.COM – Kondisi jembatan kayu penghubung antar Desa Setungkuk menuju desa Sedanau Timur, Kecamatan Bunguran Batubi, Kabupaten Natuna, kondisinya sudah sangat rusak parah.

Pasalnya, prasarana transportasi yang membentang di atas Sungai hutan bakau sepanjang kurang lebih 500 meter itu, saat ini dalam kondisi rusak parah.

Lantai jembatan terbuat dari balok kayu sudah banyak yang rusak dan termakan usia, terlihat jembatan sudah mulai roboh dibeberapa bagian. Kondisi ini sangat rawan bagi masyarakat yang melintas, terutama anak-anak sekolah.

“Ini jembatan penghubung antar dua desa, Desa Setungkuk dan Desa Sedanau Timur. Jembatan ini satu-satunya jembatan penghubung bagi masyarakat kami kenapa Pemerintah seakan tutup mata ,”ujar Ari salah seorang warga melintas, Jum’at (18/1/2019).

Kondisi jembatan tersebut bisa lebih parah, jika hujan atau jembatan dalam kondisi basah,  lantai yang terbuat dari kayu itu akan menjadi licin dan sulit tempuh.

Selain itu, rasa cemas selalu menghantui warga yang melintas sebab jembatan terlihat miring dan bisa sajar roboh.

Jembatan ini juga ternyata sudah lama di biarkan rusak oleh pemerintah daerah, proposal sudah di luncurkan setiaptahun, namunrespon dari dinas terkait tak juga ada hasilnya hingga saat ini.

“Tolong, Kondisi Jalan Kayu ini udah Rusak Parah, Pemerintah..! Ini tugas anda, kami sudah sering mengajukan proposal usulan perbaikan namun tak ada respon. Dulu bisa lewat motor sekarang untuk jalan kaki saja sudah susah, kasihan liat anak sekolah jalan di jembatan itu,”ucapnya.

Lanjut Ari, ia berharap pemerintah daerah segera memerhatikan dan memperbaiki jembatan tersebut sebelum memakan korban jiwa.

“Sudah selayaknya pemerintah membangun jembatan lebih besar dan permanen untuk kelancaran transportasi masyarakat setempat,” harapnya. 

Kepala Desa Sedanau Timur, Edi Cahyadi ditemui waktu lalu mengatakan, jembatan itu dibangun pada tahun 1988. Kemudian pernah diperbaiki pada tahun 2006 melalui dana konpensasi BBM, selanjutnya tahun 2016 dan 2017.

“Kami juga pernah melakukan perbaikan dengan menggunakan Dana Desa (DD). Namun ditahun berikutnya kami tidak mampu lagi untuk menganggarkannya, baik melalui DD maupun ADD,”sebutnya.

Dijelaskan Edi, pada tahun 2017 lalu, pihaknya sudah pernah melayangkan proposal ke Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Kepri, agar jembatan tersebut segera direnovasi atau dibangun ulang secara permanen. Namun kenyataannya hingga sampai detik ini, hasilnya masih nihil.

“Bahkan tim dari Dinas PU Provinsi sempat turun langsung kelapangan dan mengukur jembatan tersebut, sebagai perencanaan awal pembangunan. Kami pun sempat membuat berita acara bersama mereka, untuk diteruskan ke Gubernur namun hasilnya masih nihil,”sebutnya.

Sambung Edi, di Kampung Setungkuk sama sekali tidak tersedia sarana dan prasarana umum bagi penduduknya. Baik fasilitas kesehatan, pendidikan maupun fasilitas umum lainnya.

Alhasil, jika warga setempat ingin mendapatkan layanan umum, terpaksa harus hijrah ke kampung tetangganya.

“Karena segala fasilitas umumnya ada di Kampung Tanjung Sebauk. Di Kampung Setungkuk sama sekali tidak ada fasilitas umum bantulah warga kami agar dapat juga merasakan pembangunan seperti di kota kota setidaknya Jembatan ini segera direnovasi,” katanya.(Rky/Wartakepri)

BAGIKAN