Syafii Maarif : Reuni 212 Lakukanlah dengan baik dan sopan, Jaga Ketertiban Umum

159

NatunaTerkini.com – Buya Syafii Maarif, mantan Ketua PP Muhammadiyah dengan tegas menyebut bahwa Reuni Alumni 212 yang bakal digelar Besok di Monas, Jakarta, 2 Desember 2018, merupakan gerakan politik.

Bahkan, ia yakin bahwa publik bisa membaca arah gerakan politiknya. “Tapi jelas ini gerakan politik. Dalam suasana seperti ini kita sudah tahu ke mana arahnya. Publik bisa membacanya,” katanya, Jumat (30/11/2018).

Buya Syafii menambahkan, dirinya sebenarnya tak mempermasalahkan acara reuni alumni 212. Dengan catatan, acara tersebut tidak mengganggu ketertiban umum.

“Lakukanlah dengan baik, dengan sopan. Jangan mengganggu ketertiban umum. Itu saja,” ungkapnya.

Pemerintah sendiri, menurut Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), tidak bisa melarang. Sebab, kebebasan menyatakan pendapat memang dijamin dalam konstitusi.

Namun, ia menggarisbawahi bahwa acara tersebut sebenarnya menghabiskan energi hanya untuk urusan politis atas nama agama.

“Tapi kita enggak bisa melarangnya karena ada undang-undangnya. Bagi saya apakah itu tidak menghabiskan energi kita, dana kita untuk sesuatu yang sebenarnya persoalan politis atas nama agama. Apel 212 itu nuansa politiknya terasa sangat kuat,” imbuhnya lagi.

Sementara itu, di tempat terpisah, Wakil Ketua MPR Muhaimin Iskandar meminta agar acara Reuni Alumni 212 tidak ditunggangi kepentingan tertentu. Terutama isu khilafah.

“Jangan mau ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan di luar kepentingan NKRI,” tegas politikus Partai Kebangkitan Bangsa yang kerap dipanggil Cak Imin itu.

Ia sendiri menghargai acara tersebut lantaran hak demokrasi dalam menyatakan pendapat. Namun tetap harus dalam koridor sesuai peraturan dan tidak ditunggangi kepentingan tertentu.

Jimly Asshiddiqie, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, justru menyebut Reuni Alumni sebagai kegiatan yang tidak produktif lantaran kerap dilakukan berkali-kali. “Lama-lama itu tidak produktif,” tegasnya.

Seharusnya, umat Islam tidak mengedepankan soal jumlah atau banyak-banyakan politik kerumunan. Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) ini mengimbau agar umat Islam lebih fokus dalam meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta iman dan takwa, ketimbang kumpul-kumpul dengan ekspresi kemarahan.(FaktaNews)

BAGIKAN