Seaman Brotherhood, Menyatukan Rasa Kemanusiaan Aksi Nyata Laut Natuna Utara

70

NATUNATERKINI.COM – Seaman Brotherhood atau rasa persaudaraan senasib tampa memandang Bendera ataupun bangsa untuk saling membantu.

Rasa persaudaraan ini muncul mulai dari berkembangnya dunia pelayaran yang menyertai perdagangan antar pulau maupun antara negara melalui laut yang menggunakan kapal motor maupun perahu layar.

Tercermin dari kejadian dramatis dirasakan Kru Kapal Perahu Nelayan Berasal dari Natuna yang terombang ambing hingga tengelam di Laut Natuna Utara.

Kapal Tengker berasal China bernama Gua Yuan sedang melintas dekat kapal tersebut bergegas berikan pertolongan melihat sinyal darurat menimpa kru kapal ikan KM Sidik.

Bermula, Informasi ini disampaikan ke TIM SAR gabungan Pemerintah Pusat yang diteruskan Ke Tim SAR Kabupaten Natuna, Provinsi Kepri.

Tim SAR langsung bergerak ke lokasi 50 Mil dari pelabuhan Penagi mengevakuasi 7 orang nelayan yang tenggelam di perairan laut Natuna, Senin, (29/06/2020) dini hari.

Diduga 7 orang nelayan itu berlayar dari pelabuhan Desa Tanjung, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Natuna pada 27 Juni kemarin, menuju pelabuhan Kuala Mempawah, Pontianak, Kalimantan Barat.

Dimana Kapal Tengker Dari China melaporkan kepada Tim SAR gabungan yang terpusat di jakarta, lalu yang teruskan Ke Tim SAR Kabupaten Natuna, Provinsi Kepri untuk ditindak lanjuti.

Dini hari Tim SAR Bergerak ke lokasi
50 Mil dari pelabuhan Penagi Kabupaten Natuna untuk mengevakuasi 7 orang nelayan yang tenggelam di perairan laut Natuna. Senin, (29/06/2020) dini hari.

Proses evakuasi dari kapal SAR

Diduga 7 orang nelayan itu berlayar dari pelabuhan Desa Tanjung, Kecamatan Bunguran Timur Laut, Natuna pada 27 Juni kemarin, menuju pelabuhan Kuala Mempawah, Pontianak.

Namun naas, dipertengahan jalan kapal nelayan bernama KM Sidik yang bermuatan ikan sebanyak 6 ton tersebut, dihantam gelombang tinggi, hingga tenggelam.

Akibat kejadian, satu korban diantaranya meninggal dunia. Sementara 6 korban  lainnya berhasil diselamatkan.

Sebelumnya korban sempat diselamatkan oleh Kapal Tangker China yang melintas pada 28 Juni, setelah terombang-ambing mengapung selama 39 jam di permukaan air.

Sebab mulai kena badai langsung air masuk jam 03.00 subuh pada 27 juni kemarin, dan di tolong oleh kapal Gua Yuan pada 28 Juni selitar pukul 17.00 wib tgl. 28 Juni.

Foto SAR Natuna

“Awal kita mendapat informasi dari Basarnas Pusat, bedasarkan petunjuk dari laporkan Kapal Tangker China. Dengan demikian kita kerahkan personil gabungan yang terdiri dari Personil Basarnas, TNI/Polri, dan Dishub, menggunakan KN SAR Sasikirana menuju kapal Tangker itu dengan jarak sekitar 50 Mil dari pelabuhan Penagi,” ujar Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Natuna, Mexianus Bekabel.

Maxianus merincikan, data korban yang meninggal dunia atas nama Husaini (54) asal Ketapang.

Sementara korban selamat yakni nakhoda kapal atas nama Forgan (50) asal Mempawah, Sudarman (50) asal Mempawah, Alfian (53) Mempawah, Teguh (29) Mempawah Timur, Jamuris (55) Tanjung, Kecamatan Bunguran Timur Laut Natuna, dan Lendra (53) Pontianak.

“Korban yang selamat maupun meninggal, saat ini telah diserahkan kepada tim Gugus Tugas Covid-19 Natuna, sebagai antisipasi penyebaran Covid-19,” ujarnya.

Untuk penanganan Covid-19 sendiri, ini sebetulnya antisipasi dikarenakan telah kontak langsung dengan kapal asing”, Ujar Dandim 0318/Natuna, Letkol Czi Ferry Criwardana yang sekaligus merupakan Wakil Ketua Gugus Tugas Covid-19 Natuna.

Sementara terkait pengamanan saat proses evakuasi, terlihat sejumlah personil TNI bersenjata lengkap. Namun hal tersebut diakui Danlanal Ranai, Kolonet Laut (P) Dofir, telah sesuai dengan SOP.

“Kita dari TNI-AL khususnya memang menyiapkan satu tim pengamanan proses evakuasi ini, dan atas koordinasi dari Kepala KKP Natuna, kita juga telah stanbykan satu KRI, mana kala cuaca menghalangi Kapal Basarnas (KN Sasikirana) untuk tiba titik koordinat, dan itu semua sudah sesuai prosedur,” pungkasnya. (Sumber: wartakepri.co.id)

BAGIKAN