Kenapa Reuni 212 itu Politis ?

313

Kok masih ada yang bilang ReUNi 212 itu kegiatan politik ya?

Oleh : Among Karunia Ebo

NatunaTerkini.com – Buat saya aneh…Ini sudah di atas politik. Politik itu dasarnya kekuasaan dan uang. Yang hadir kalau nggak berharap uang ya nantinya dapat jatah bagi-bagi kekuasaan…

Tapi yang datang dari berbagai penjuru nusantara dalam Reuni 212 ini pastinya bukan karena ingin mendapatkan amplop apalagi jatah jabatan.

Malah mereka yang kebanyakan keluar uang sendiri, menyiapkan fasilitas sendiri, datang sendiri, bahkan kadang bawa bekal macam-macam untuk dibagi-bagi buat yang membutuhkan.

Mulai minuman botol, makanan kotak, handuk, tossu, jas hujan, obat gosok, balsem, plastik sampah, tenaga pijat, power bank, tempat toilet, dan macam-macam.

Mereka datang berbondong-bondong. Nggak ada yang nyuruh, nggak ada yang ngoordinir. Bahkan mungkin nggak ada yang ngundang langsung sehingga nggak ada yang protes kok saya nggak diundang ya?

Semua datang karena digerakkan oleh dirinya sendiri. Bahkan ada sampai menguras isi tabungannya untuk membeli tiket pulang pergi.

Hati dan pikiran mereka sendiri yang menyuruh untuk datang ke Jakarta. Bukan Habib, bukan partai bukan ormas agama.

Kalau toh ada undangan: undangannya sederhana saja. Cukup selebaran: Ada Reuni 212. Titik. Datang silakan ngak datang nggak apa. Berdoa aja dari rumah saja juga boleh.

Subhanallah….
Jutaan orang-orang itu
Semua tergerakkan karena iman. Karena spiritualitas. Karena persaudaraan. Karena kecintaan pada agama dan bangsa.

Kalau dikatakan itu politik, mana ada sih partai politik yang bisa mengumpulkan massa sebanyak itu dalam satu tempat dalam satu waktu dan tanpa ada sedikit pun gejolak? Jangankan nyawa manusia, rumput pun aman.

Kalau masih sangsi, boleh deh dicoba, silakan partai mana saja bikinlah acara serupa.

Terserah mau pakai kata reuni, konsolidasi, arau apapun. Bebas. Yang penting bisa membuktikan bisa mendatangkan 7 juta orang ke Monas, beracara bersama, dan berakhir tanpa kerusuhan. Gampang kan?

Kemaren katanya ada yang siap mendatangkan 4 juta orang sendirian untuk menandingi Reuni 212. Ternyata kan hanya omong doang.

Tanpa bukti. Yang begitu baru namanya politis. Alias nggedabrus!

Jadi, kalau Reuni 212 kok dikatakan politis atau kegiatan politik kok saya rasa harus belajar lagi tentang psikologis umat Islam itu orang. Biar lebih paham ini soal hati. Soal iman.

Soal keyakinan. Soal persaudaraan Islam. Soal kecintaan pada agama dan bangsa.

Coba aja ditanyakan saja pada mereka yang baru pulang dari Monas: dapat apa atau dapat berapa kamu dari Reuni 212. Pasti darahnya langsung mendidih dan rasanya ingin menamparmu.

Karena mereka datang bukan karena alasan serendah itu. Mereka masih punya hati, moralitas, harga diri yang tidak bisa dibeli dengan apa atau berapa.

Hanya mereka yang berpikir rendah saja yang akan merendahkan acara reuni 212 dinilai serendah itu, sekedar kegiatan politik.

Hanya hati yang tertutup kabut saja yang akan bilang Reuni 212 adalah kegiatan umat yang ditunggangi politikus.

Kadang sirik itu tanda tak mampu. Akhirnya nuduh orang lain dengan stigma macam-macam.

Padahal, sebenarnya dirinya sendirilah yang piktor. Nggak mampu berbuat apa-apa untuk umat.

Hanya bisa ndompleng atau memperalat umat. Untung umat ini sudah cerdas dan waras. Nggak mau ditipu dengan politisasi macam itu.

Tapi saya haqqul yakin nggak ada yang bisa bikin yang seperti 212. Yang sudah terbukti tiga kali dan nggak ada keributan apa-apa. Mau model apa saja.

Konser musik juga boleh kalau mau nyoba menandinginya. Kemaren di GBK ada yabg bikin konser GNR yang legendaris itu saja, banyak ruang yang melompong di tengahnya. Bahkan kabarnya ada yang bilang panitianya rugi mikyaran rupiah.

Boleh juga atas nama deklarasi apa gutulah, kita lihat bisa nembus sejuta nggak dan tanpa keributan nggak. Kok saya nggak yakin. Ya, karena yang satu digerakkan oleh hati, yang satu digerakkan hal-hal duniawi

Semoga tahun depan Reuni 212 akan terselenggara kembali, dengan jumlah yang jauh lebih banyak.

Sudah tiga angkatan, kalau semua datang pasti jumlahnya bisa lebih banyak lagi. Tunjukkan pada dunia bahwa islam di Indonesia adalah islam yang rahmatan lil alamin.

Sumber : Facebook Among karunia Ebo

( 3/12/2018)

BAGIKAN