Bos PO Haryanto, Pensiunan TNI Kopral Kepala, Loyalitas Tampa Batas Prabowo – Sandi

710

NATUNA TERKINI.COM – Haryanto merupakan figur perantau yang sukses mengembangkan bisnis transportasi dengan didasari nilai nilai Religius.

Ia merintis usaha dari nol hingga akhirnya menjadi salah satu pengusaha bus ternama di kota Kudus, Jawa Tengah.

Di jalur Pantura, bus-bus itu hilir mudik. Armadanya selalu terlihat mengkilat. Pertanda bus itu masih prima dan terawat. Entah sudah berapa ratusan ribu orang dari Ibukota menaiki armada itu.

Badan bus itu sebetulnya tak ada beda dengan angkutan masal lainnya. Namun memang bus itu selalu terlihat baru.

Di kawasan Terminal Pulogadung, Jakarta Timur, armada ini kerap parkir. Sebaris kata terpambang di sisi kanan dan kiri bus dalam bentuk huruf tersambung berwarna merah. Bus itu berlogo dan berlambangkan Menara Kudus, Haryanto.

Mengawali perantauan di Ibukota, Haryanto muda masuk sebagai anggota TNI Angkatan Darat. Di sela kesibukannya sebagai anggota TNI, ia membeli angkutan kota dan dikemudikannya sendiri.

Haryanto bukan orang yang terlahir kaya. Dia cuma anak dari pasangan buruh tani di Kudus, Jawa Tengah. Kehidupan masa kecilnya begitu sulit.

Sampai-sampai kedua orangtuanya harus mencari penghasilan tambahan menjadi tukang pemisah tulang dengan daging ikan di pasar.

Hanya keuletan dari kedua orangtua Haryanto yang membuat penghasilan pas-pasan itu bisa mencukupi hidup keluarga ini. Keuletan yang kelas ditularkan kepada Haryanto kecil.

Lama kelamaan armadanya kian bertambah, hingga kini memiliki sekitar lebih dari 150 bus malam dan bus pariwisata.

Karena khawatir mengganggu tugas di kesatuannya, Haryanto memilih pensiun dini dari anggota TNI dengan pangkat terakhir Kopral Kepala.

Haryanto yang biasa dipanggil Pak Haji adalah orang yang sangat sederhana namun bersahaja, sehingga ia pantas dipanggil guru oleh karyawan karyawannya, karena disela sela kesibukannya tak luput mengajak kebaikan kepada seluruh karyawan untuk selalu mengingat Sang Pencipta.

ist

Di dalam momen politik saat ini, H. Haryanto teringat sesuatu hal terjadi tahun lalu di Jakarta saat aksi 212 (2/12/2017), yang mana ia diancam oleh pemerintahan ini akan dicabut izin usahanya dibidang transportasi, oleh karena itu hal membuat hati H. Haryanto bergerak ingin ada perubahan di pemerintahan tahun 2019 nantinya.

Dengan mendukung capres dan cawapres yang memegang teguh kesatuan dan persatuan, tidak mengkriminalisasi ulama dan mampu membuat negeri ini jauh dari hutang piutang yang mengandung riba didalamnya sehingga hasil bumi ini berkah dan bisa dirasakan oleh seluruh umat manusia khususnya di Indonesia.

Di dalam sebuah kesempatan pada sabtu (15/12) lalu, dalam orasinya saat sosialisasi dan peresmian Rumah Juang kader Gerindra di Kudus, Jawa Tengah ia bernazar jika Prabowo-Sandi menang.

ia akan menjual 1 busnya seharga 1 milyar atau lebih untuk disumbangkan kepada anak yatim, kaum duafa dan pondok pondok pesantren.

“Saya bernazar, saya bernazar ya pak … dengan ini saya bernazar, jika pak Prabowo menang, saya jual 1 bus saya seharga 1 milyar atau lebih, akan saya sumbangkan saya sodakohkan untuk anak-anak yatim, orang orang miskin, dan pondok pondok pesantren,” ucap H Haryanto dengan tegas dihadapan seluruh peserta yang hadir.

Namun tidak hanya itu, H. Haryanto selaku penasehat partai Gerindra Kudus, ia ingin tak ada kecurangan atau sifat sifat yang dapat merugikan rakyat seperti koruptif nantinya jika sudah menjabat di parlemen.

“Saya tekankan, saya tak mau dari caleg caleg ini ada sifat-sifat yang dapat merugikan rakyat, jika selam ini saya dapati dan macem macem, tentu saya cabut pencalegkannya, saya takut akan berakibat buruk untuk kedepannya dan mencurangi pak Prabowo,” pungkas H. Haryanto.(Editor:Riky)

Sumber :Koran Perjoeangan

BAGIKAN