Boikot Produk Prancis Oleh Presiden Turki Bikin Perdagangan Dunia Melandai

261
Hubungan Perancis dengan Turki dan negara-negara Muslim lain memanas.

NATUNATERKINI.COM – Hubungan Perancis dengan Turki dan negara-negara Muslim lain memanas. Pasca seruan Presiden Turki, Banyak negara muslim yang mengecam sikap Presiden Emmanuel Macron.

Presiden Prancic mengatakan tidak akan mencegah penerbitan karikatur Nabi Muhammad dianggap sebagai penghinaan terhadap Nabi Muhammad dan agama Islam pada umumnya.

Setelah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengeluarkan pernyataan tentang boikot barang-barang asal Prancis.

Erdogan meminta Turki untuk berhenti membeli barang asal Prancis sebagai bentuk protes pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Mengutip dw.com seruan boikot ini disebut akan membuat gonjang-ganjing hubungan kedua negara.

Hal ini karena Turki dan Prancis merupakan mitra dagang utama dengan total volume perdagangan sekitar US$ 16,6 miliar per tahun. Memang Prancis menyebut tidak akan membalas aksi boikot ini.

Sebelum boikot produk Prancis ini, Erdogan juga pernah memboikot barang elektronik asal Amerika Serikat (AS).

Banyak analis menyebut jika langkah ini akan menjadi sia-sia dan menimbulkan dampak negatif untuk pekerja lokal.

Mobil asal Prancis merupakan salah satu otomotif yang paling laku di Turki. Turki adalah pasar terbesar kedelapan untuk Renault dan memiliki pabrik besar di Bursa dengan kapasitas produksi tahunan mencapai 400.000 unit dan lebih dari 900.000 mesin.


Pabrik tersebut mempekerjakan lebih dari 6.000 orang dan menjual hampir 50.000 unit kendaraan dalam enam bulan pertama tahun ini.

Seruan Erdogan untuk boikot ini juga akan terjadi di negara muslim lain yang akan meminta konsumen dan toko untuk menolak barang dan merek asal Prancis.

Beberapa supermarket di Qatar dan Kuwait dilaporkan telah menarik barang seperti yoghurt, dan botol air soda di toko mereka.

Kemudian Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) mendorong pemilik toko Carrefour di Timur Tengah untuk memberikan pernyataan jika toko dimiliki sepenuhnya oleh Majid Al Futtaim Sebuah perusahaan yang berbasis di UEA.

Ketegangan kedua negara ini membebani mata uang Turki, Lira yang anjlok hingga menyentuh 8 Lira per dolar AS. Ini merupakan yang pertama kalinya terjadi pada Turki. (Rik)

Sumber: Detik.com

BAGIKAN