Begini Anggur Laut, Sudah Pernah Coba Ternyata Banyak Di Laut Natuna Utara

Banyak terdapat di laut Natuna Latoh adalah sejenis rumput laut dengan nama lainnya adalah Caulerpa dari kelompok Chlorophyceae (alga hijau).

213
Salad latoh lezat

NATUNATERKINI.COM– Berbagai inovasi terus dikembangkan Pemerintah Indonesia dalam mengembangkan sektor perikanan budidaya di tahun 2017 lalu.

Inovasi dilakukan, salah satunya untuk menggenjot target produksi sebesar 22,46 juta ton yang sudah dicanangkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) atau naik tiga juta ton dari target produksi 2016 sebanyak 19,46 juta ton.

Salah satu komoditas yang menjadi unggulan untuk mendulang jumlah produksi yang banyak, menurut Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto adalah rumput laut.

Komoditas tersebut setiap tahunnya selalu menyumbang jumlah produksi yang banyak dan mendominasi dari total produksi perikanan budidaya.

Latoh adalah sejenis rumput laut dengan nama lainnya adalah Caulerpa dari kelompok Chlorophyceae (alga hijau).

Jenis rumput laut ini dikenal sebagai lalapan, salad atau sayuran yang sangat diminati oleh masyarakat dalam negeri maupun luar negeri. Seperti Jepang, Korea, China, dan beberapa negara Eropa.

Beberapa spesies terutama Caulerpa lentillifera dan C. racemosa biasa dimakan dan disebut dengan nama “kaviar hijau”, atau “anggur laut”

Namun di Natuna Caulerpa lentillifera di sebut dengan Latoh Miyang (Miyang artinya gatal) dan C. racemosa adalah Latoh Dees (Dees artinya pedas). Keduanya memang memiliki rasa yang pedas.

Menurut masyarakat Natuna, Latoh yang paling enak adalah Latoh Miyang, karena selain biji buah lebih kecil begitu juga batangnya, akan tetapi rasanya juga lebih enak dari Latoh Dees karena tidak terlalu pedas. 

Agar target produksi bisa terwujud, Slamet menyebut, pihaknya melakukan inovasi dengan menciptakan varian rumput laut bernilai ekonomis tinggi dan dilakukan melalui perekayasa teknologi.

Daerah lain, Inovasi tersebut adalah rumput laut jenis Caulerpasp atau lebih dikenal dengan nama lokal lawi-lawi (Sulawesi Selatan), latoh (Lombok) atau sebagian masyarakat menyebutnya dengan anggur laut.

Slamet menuturkan, rumput laut yang masuk kelompok alga hijau ini pada awalnya masih dianggap sebagai gulma dan hanya menjadi penganan biasa masyarakat.

Akan tetapi, setelah dilaksanakan program diversifikasi komoditas yang dikembangkan Balai Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar, varian tersebut kini menjadi salah satu komoditas primadona.

“Varian tersebut dipilih para petambak dan menjadi alternatif utama untuk menopang pendapatan masyarakat,” ungkap dia belum lama ini.

Menurut Slamet, produksi Lawi-lawi yang dilaksanakan di tambak akan meningkat cepat jika para pembudidaya semakin banyak mengadopsi teknologi budidaya.

Jika itu sudah terlaksana, maka kebutuhan pasar baik lokal maupun ekspor bisa dipasok dengan cukup.

Lebih lanjut Slamet menjelaskan, sebelum mengembangkan lawi-lawi, Indonesia terbiasa memproduksi rumput laut sebagai komoditas andalan untuk perikanan budidaya.

Namun, dari 550 jenis rumput laut yang ada di perairan Indonesia, varian yang baru diproduksi massal hanya 5 jenis rumput laut saja.

Slamet memaparkan, kelima jenis rumput laut tersebut adalah Eucheumacottoni, Gracilariasp, Spinosumsp, Halymeniasp, dan Caulerpasp.

Baginya, kelima jenis rumput laut tersebut selama ini sudah memberi peluang bagi para pembudidaya ikan yang ada di Tanah Air.

“Banyaknya varian rumput laut juga menjadi peluang tersendiri bagi Indonesia untuk lebih mengeksplorasi beragam jenis rumput laut sehingga secara langsung memberikan nilai manfaat ekonomi,” sebut dia.

latoh DI Perairan Laut Natuna Utara

Target Ekspor

Slamet Soebjakto mengatakan, sebagai varian terbaru yang dikembangkan dan diproduksi massal, rumput laut jenis lawi-lawi disiapkan untuk bisa menembus pasar internasional (ekspor).

Untuk itu, pemanfaatan varian tersebut oleh pembudiaya ikan akan terus didorong oleh Pemerintah Indonesia sehingga memberikan manfaat nilai ekonomi bagi masyarakat maupun perekonomian nasional.

“Pengembangan lawi-lawi yang berhasil menembus pasar ekspor, menjadi harapan baru bagi Indonesia untuk terus mengeksplorasi sumberdaya rumput laut nasional. Dengan demikian, harapan Indonesia menjadi kiblat rumput laut dunia dapat terwujud,” ujar dia.

Kepala BPBAP Takalar Nono Hartono mengungkapkan, sebagai varian baru yang berhasil dikembangkan melalui peran teknologi, lawi-lawi memang sudah berhasil mencuri perhatian para pengusaha budidaya. Tak tanggung-tanggung, varian tersebut kini sudah resmi masuk pasar internasional di Jepang.

Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar Nono Hartono mengatakan unit purifikasi instansinya bekerja sama dengan Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) telah mengekspor lawi-lawi segar ke Jepang.

“Khusus untuk Jepang saja, kebutuhan ekspor lawi-lawi minimal 500 kg per bulan dalam bentuk segar dan permintaan cenderung naik. Kami harapkan berikutnya pasar ekspor Jepang ini bisa naik minimal 10 kali lipat,” katanya dalam siaran pers.

Nono mengungkapkan, meski sudah berhasil diekspor, namun itu merupakan tahap awal dan ditargetkan negara tujuan ekspor akan bertambah lagi hingga menjangkau Tiongkok, Korea Selatan, dan Filipina.

Negara-negara tersebut, saat ini sudah menyatakan ketertarikannya untuk mengimpor lawi-lawi dari Indonesia.

“Karakter masyarakat negara tersebut yang cenderung menyukai produk-produk sehat seperti rumput laut, secara langsung akan memicu permintaan pasar yang signifikan,” jelas dia.

Selain untuk pasar internasional, Nono menyebut, permintaan lawi-lawi kini juga sudah mulai berdatangan dari pasar dalam negeri. Di antaranya, dari perusahaan ritel PT Transmart Carrefour yang sudah menjual produk segar rumput laut tersebut di pasar modern mereka.

Lawi-lawi saat ini telah menjadi primadona baru di dunia bisnis perumput-lautan nasional bahkan dunia, ini menjadi nilai tambah tersendiri sekaligus tantangan untuk terus melakukan riset terkait nilai ekonomi sumberdaya rumput laut nasional yang potensi lahan dan varian jenisnya yang beragam,” ungkap dia.

Menurut masyarakat Natuna, Latoh yang paling enak adalah Latoh Miyang, karena selain biji buah lebih kecil begitu juga batangnya

Ratte Daeng Bella, 46 tahun, salah satu pembudidaya di Takalar, Sulawesi Selatan mengatakan, selama ini para pembudidaya belum tahu bahwa tambak bisa menghasilkan budidaya rumput laut jenis lain.

Biasanya, rumput laut yang dibudidayakan di tambak hanya jenis Gracillaria dan lawi-lawi baru dikenalkan setelah BPBAP Takalar mengembangkannya.

“Sejak lawi-lawi dikenalkan, banyak warga yang mulai melakukan usaha budidaya. Mereka senang karena pendapatannya jadi meningkat,” sebut dia.

Ratte mengungkapkan, dengan harga jual basah sekitar Rp150.000 hingga Rp250.000 per karung, dia bisa mendapatkan penghasilan hingga Rp15 juta per bulan dari tambak seluas 3.200 m2 yang dimilikinya.

Untuk diketahui, dalam kurun waktu lima tahun (2011-2015) produksi rumput laut menunjukkan tren kenaikan positif, dengan rata-rata kenaikan mencapai 22,25 persen.

Pada 2015 volume produksi rumput laut nasional mencapai sekitar 11,2 juta ton dengan nilai produksi mencapai Rp13,2 trilliun atau naik 9,8 persen dari 2014 yang mencapai sekitar 10,2 juta ton. (rik)


Sumber: Mongabay Indonesia

BAGIKAN