Abang Bulganon, Pendengar Yang Baik

476

(Kisah kedua pertemuan dengan Abang)

Oleh : Jiffy Ngawiat Prananto

Peristiwa ini mungkin sulit saya lupakan dan menjadi kenangan saya seumur hidup. Saat pertama kali saya mendampingi Abang menjadi pengacara Abang di LBH Yaskum.

Pagi itu, sekitar bulan Juli 2003, hari pertama kali pula saya bisa bertatap muka langsung dengan Abang di ruangan Abang, suatu momen yang tidak mungkin bisa dilakukan bagi ummat kebanyakan seperti saya, yang semula hanya bisa melihat Abang di kejauhan itupun saat ada acara besar Yaskum.

Saya pertama diwaris dan dituntun pada bulan Juli 1999 oleh Bapak Supardi, seorang Pembina yang dulu merupakan didikan dari Bapak Sulistyo.

Abang saat itu terlihat sudah siap dengan penampilan perlente dengan senyum khasnya menyapa saya, “Jiffy bisa temenin Abang tidak ke kantor partner Abang yang di Cideng?” “Siap bang”, sahut saya.

Akhirnya kami keluar bersama dan Abang menunjukkan mobil yang akan kita kendarai menuju Cideng.

Di mobil tersebut saya terkejut ternyata Abang sendiri yang mau menyetir, saya bilang,

”Bang, biar saya saja yang nyetir”.
“Gak Jif, biar Abang saja yang nyetir kebetulan Abang sudah lama sekali tidak nyetir sekalian nyoba nyetir mobil ini”.

Saya hanya bisa menyetujui saja, tapi jujur sangat kikuk dan grogi sekali keadaan saya waktu itu. Sepanjang jalan, tidak berani saya bertanya atau berkata apapun.

Sekitar pukul 11 kami tiba di Cideng, di sebuah kantor yang terasa cukup lama umurnya. Disana Abang sudah disambut Satpam yang sepertinya sudah mengenal baik Abang.

Langsung kami naik ke lantai dua dan disambut salah satu staf kantor kemudian dipersilahkan untuk duduk dalam satu ruangan.

FB Sahabat Yaskum Indonesia

Beberapa saat kemudian, munculah seseorang dengan umur kurang lebih sama dengan Abang, orang ini menyambut Abang seperti selayaknya sahabat lama Abang.

Abang kemudian memperkenalkan saya, “Ini Jiffy, lawyer kita yang baru , sebelumnya di kantor pengacaranya pak Adi dan Eddi (keduanya tokoh Nasional dan nama sengaja saya samarkan demi menghomarti beliau-beliau) dan juga akrab dengan grup ABC (suatu kelompok usaha yg cukup disegani).”

Singkat cerita, akhirnya setelah saling bertegur sapa, beliau yang diperkenalkan sebagai Mitra abang ini kemudian mulai bercerita, dari persoalan pribadi, pekerjaan dan kasus-kasusnya.

Dia bercerita dan bercerita, disitu saya hanya melihat Abang hanya mendengar dan mendengar dengan serius sesekali menggangguk-anggukkan kepala dan tersenyum. Tidak ada sepatah katapun yang terucap dari mulut Abang.

Waktu berjalan sedemikian cepat tak terasa sekitar 2 jam lebih kami di ruangan itu dan hanya mendengar cerita dan perkataan mitra Abang tersebut.

Setelah selesai orang tersebut bercerita, Abang pamit. Begitu masuk ke mobil kembali Abang yang menyetir mobil.

Sebelum pergi dari kantor tersebut, Abang mengeluarkan sekitar 2 atau 3 lembar uang seratus ribuan kepada masing-masing Satpam atau juru parkir yang ada di kantor tersebut.

Di perjalanan, kembali suasana kikuk dan grogi yang saya alami. Rasanya berat sekali untuk membuka pembicaraan dengan Abang dan saat itu Abangpun hanya diam tanpa mencoba membuka pembicaraan.

Sepanjang perjalanan fikiran saya berkecamuk, ternyata Abang di luar tidak seperti yang saya bayangkan selama ini.

Abang kok terkesan hanya manut saja mengikuti saja perkataan orang tanpa menyanggah sedikitpun.

Kenapa Abang tidak mau mendirect (mengarahkan/memerintahkan) atau mengeluarkan setidak-tidaknya saran atau pendapat kepada orang tersebut.

Abang di mata saya tidak seperti diceritakan orang-orang dengan karakter kepemimpinannya yang tegas.

Begitu ramainya fikiran saya hingga sampai saat tiba keberanian saya karena sudah tidak bisa menahan lagi rasa penasaran saya.

“Abang sudah lama kenal dengan bapak itu?”

“Ya, Abang sudah kenal lama dengan pak John (nama samaran) ?

“Sudah puluhan tahun, beliau partnernya Abang”

“Apakah pak John ini sudah diwaris Bang? “

“Belum”, jawab Abang. “Kenapa Jif?”

“Bukankah tugas kita adalah menyampaikan amanat ini kepada sesama kita bang?”

“Kenapa Jiffy berfikir bahwa semua orang harus menjadi orang kita, bukankah begitu mereka sudah mendatangkan manfaat kepada kita bukankah itu sudah cukup?”, sahut Abang.

Saya hanya bisa menggangguk, walaupun belum bisa menerima, saya tidak melanjutkan lagi pertanyaan saya tersebut.

“Abang..tadi saya lihat kok Abang cuma diam saja mendengar omongannya Pak John, saya kok lihat Abang cuma jadi keranjang sampah dia.”

Kembali Abang menjawab dengan tenang,”Ya Jif, kalau bukan keranjang sampah terus apalagi ? Abang ini memang hanya jadi keranjang sampah dari orang-orang termasuk pak John itu. Itu memang peran dan tugas Abang. “

Mendengar jawaban Abang, saya merasa terharu walaupun saya sulit mencerna tujuan dan maksud ucapan Abang tersebut.

Kembali suasana hening, saya tidak berani melanjutkan lagi pertanyaan saya. Dibenak saya waktu itu, ternyata Abang tidak segarang dan berwibawa seperti yang saya bayangkan sewaktu menjadi ummat pada umumnya.

Abang tidaklah segagah yang saya bayangkan juga sebelumnya. Begitulah kira-kira yang ada dibenak saya waktu itu.

Tahun demi tahun berlalu, Abang sepertinya menjabarkan pertanyaan-pertanyaan saya yang lalu.

Dalam membahas soal apapun, Abang selalu meminta pendapat kita para lawyer di LBH-Yaskum, padahal ketika itu kita semua masih sangat muda masih sekitar 20 tahunan, hanya Bang Hidayat saja yang sudah memasuki usia matang ketika itu.

Begitu pula ketika bertemu dengan orang-orang lain, beliau selalu meminta pendapat terlebih dahulu.

Jarang sekali ketika itu Abang mengemukakan pendapatnya dahulu baru meminta pendapat kami-kami para lawyer. Lain hal ketika beliau memerintahkan, maka kami hanya bekerja saja menerjemahkan apa yang beliau perintahkan.

Sampai saat ketika tibalah tahun-tahun dimana Abang mulai menguraikan manfaat dari seorang pendengar yang baik.

Bahkan baru ditegaskan secara gamblang dimuka ummat kebanyakan bahwa mendengar itu tidak ada sekolahnya, itu terjadi di tahun-tahun saat ini.

Dengan mendengar kita sama saja kita mengerem hawa nafsu dan keegoan kita. Dengan mendengar, kita akan menerima wawasan-wawasan dan khasanah-khasanah baru di bidang apapun.

Dan kita menikmati kecermatan dan kecepatan fikiran kita menangkap ilmu-ilmu baru tersebut dan tentunya dengan bantuan sang Ruuhi.

Kita mampu menyelami persoalan-persoalan antar individu bahkan memberikan solusi yang dapat diterima oleh segala pihak.

Ini yang dimaksud Abang sekitar 15 (lima belas) tahun lalu mengenai peran dan tugas Abang seolah-olah seperti keranjang sampah.

Dengan menempatkan diri Abang selayaknya keranjang sampah, Abang memaksimalkan perannya sebagai seorang pendengar yang baik yang bisa melayani siapa saja, apakah itu ummat atau orang awam.

Jangan takut dengan peran sebagai keranjang sampah ini kita akan direndahkan atau hina kedudukannya di mata masyarakat.

Karena justru peran keranjang sampah ini akan menempatkan harkat dan derajat kita lebih baik di mata umat maupun masyarakat karena fikiran dan panca indera kita akan berfungsi secara optimal apalagi ditambah dengan kekuatan si Ruuhi.

Selanjutnya persoalan harkat dan martabat sudah menjadi bagian dari pengaturan-Nya , kita hanya menjalani dan mensyukuri saja.

Mungkin dari bercerita ini saya hanya mengandalkan ingatan diri dan kecermatan berfikir yang sangat terbatas, walaupun demikian setidak-tidaknya ini yang saya alami sendiri menjadi ummat Abang yang mencoba menjabarkan ajaran-ajaran dari Abang kepada diri saya pribadi, mudah-mudahan ada kecocokan dan manfaat bagi kita semua. Ummat kesucian , amanat dan alam RASI.

Allahu Akbar…!!!!

Tangerang, 15 Januari 2015

BAGIKAN