Mengharukan Perjuangan Dari Sejarah Penaklukan Konstantinopel oleh Mehmed II

Muhammad al-Fatih mewasiatkan kepada putra dan penerus tahtanya, Sultan Bayazid II agar senantiasa dekat dengan para ulama, berbuat adil, tidak tertipu dengan harta, dan benar-benar menjaga agama baik untuk pribadi, masyarakat, dan kerajaan.

367
Masjid Selimiye, yang dikenal sebagai 'mahkota kota', mendapatkan namanya dengan menjadi salah satu contoh arsitektur Ottoman yang paling indah. Struktur Masjid yang unik, halus dan ahli, menempati area yang luas, dan sejumlah besar jendelanya, meninggalkan reputasi Hagia Sophia di tempat teduh. Foto: turkey.com

NATUNATERKINI.COM – Istanbul, kota yang berada persis di dua benua: Eropa dan Asia. Pesonanya memadukan unsur kemodernan benua biru sekaligus keramahan ala Masyarakat Timur.

Maka siapa pun yang berkunjung ke kota ini akan dibuat takjub karenanya. Begitulah keindahan kota Istanbul Turki yang wajib dikunjungi.

Dahulu Istanbul memiliki nama Konstantinopel, ibukota Kekaisaran Romawi Byzantium. Kota ini berganti nama ketika Sultan Muhammad Al-Fatih berhasil merebutnya, lalu jadilah ia Islambul yang berarti Kota Islam.

Perjalanan yang panjang tersebut kini membuat Istanbul menyimpan berbagai objek wisata sejarah.

Di antaranya ada Hagia Sophia, contoh terbaik untuk menemukan harmoni antara Islam dan Kristen. Bangunan megah sekaligus ikon wisata Istanbul ini merupakan museum terbuka yang boleh dikunjungi siapa pun.

Lalu ada pula Topcapi Palace. Istana Kekaisaran Ottoman yang kini beralihfungsi sebagai museum yang menyimpan benda-benda peninggalan Rasulullah dan para sahabat.

Tidak jauh dari situ, kita bisa menemukan Blue Mosque. Dibangun oleh Sultan Ahmed untuk menandingi Hagia Sophia.

Lengkap dengan kubah besar, tiang menjulang tinggi, dan keramik iznik berwarna biru benderang yang menghiasi dindingnya. Dan masih banyak lagi.

Lalu, bagaimana sejarah dari kota yang kini dijuluki sebagai Istanbul tersebut? Simak ulasan yang dirangkum dari berbagai sumber berikut ini.

Awal dari sejarah Istanbul yakni berasal dari sabda Rasulullah SAW yang mengatakan terkait dengan kepemimpinan.

Beliau secara langsung mengatakan bahwa sebaik-baiknya pemimpin adalah mereka yang dapat menaklukkan Konstantinopel.

“Sesungguhnya akan dibuka Kota Konstantinopel, sebaik-baik pemimpin adalah yang memimpin saat itu, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan perang saat itu.” (HR. Imam Ahmad 4/235, Bukhori 139).

Maka, sejak saat itu pula sabda Rasulullah SAW menjadi sangat fenomenal di kalangan umat Islam.

Banyak yang kemudian menjadikan sabda Rasulullah sebagai salah satu impian terbesar mereka untuk mendapatkan kemuliaan di sisi Allah SWT.

Salah satunya yakni Mehmed bin Murad atau yang kini dikenal dengan sebutan El-Fatih (sang penakluk).

Sultan Mehmed II atau Muhammad al-Fatih merupakan pangeran dari Kerjaan Ustmaniyah, yakni keturunan langsung dari Sultan Murad II yang dilahirkan pada 27 Rajab 835 H/30 Maret 1432 M di Kota Erdine, ibu kota Kerjaan Ustmaniyah di kala itu.

Didikan dari kerajaan dan sang ayah yang tegas membuatnya tumbuh menjadi salah satu pemuda yang cerdas, berintelektual tinggi, dan berani.

Beberapa pencapaian luar biasanya sewaktu masih kecil yaitu kemampuannya dalam berbicara multibahasa seperti Bahasa Yunani, Latin, Persia, dan Bahasa Arab.

Tidak hanya itu, ia juga telah mampu mengkhatamkan hafalan Alquran yang berisikan 30 juz secara fasih dan lancar.

Meskipun demikian, sang ayah yang juga merupakan pemimpin dari Kerjaan Ustmaniyah kala itu juga tidak lupa untuk memberikan berbagai ajaran melalui para ulama.

Sebab sang ayah juga menyadari akan tanggung jawab besar yang kelak akan ia amanatkan kepada sang pangeran.

Dengan berbagai kecerdasan yang dimilikinya, Muhammad el-Fatih pun dengan cepat diangkat menjadi pemimpin Kerjaan Ustmaniyah pada saat umurnya yang relatif masih muda yakni 19 tahun.

Sabda Rasulullah yang merupakan impiannya sejak dahulu lantas ia jadikan sebagai salah satu program terbesarnya ketika ia memimpin sejak tanggal 5 Muharam 855 H atau 7 Februari 1451 M.

Tidak secara langsung menyerang Konstantinopel, ia pun membuat beberapa kebijakan strategis terlebih dahulu seperti kebijakan militer dan politik luar negeri.

Kebijakan tersebut membuat beberapa daerah yang memiliki kerjasama dengan Kerajaan Ustmaniyah harus menghilangkan pengaruh Kerajaan Romawi Timur secara politis dan militer.

https://kisahmuslim.com

Kejayaan Bizantium

Sebelum ditaklukkan oleh Muhammad el-Fatih, daerah penting dari Kerajaan Romawi Timur yang telah berkuasa selama 11 abad ini pada dasarnya telah diserang oleh beberapa prajurit umat Islam terlebih dahulu.

Sebab, beberapa bangsa yang mencoba untuk membuktikan sabda Rasulullah tersebut ternyata tidak cukup kuat untuk menembus benteng pertahanan Konstantinopel yang dibuat dengan sangat rumit.

Untuk dapat menaklukkan Konstantinopel, Sultan Mehmed II ini telah mempersiapkan prajurit sebanyak 4 juta orang dengan taktik perang yang akan dilancarkan dari darat. Penaklukan ini sejatinya tidaklah mudah, sebab prajuritnya harus mengepung benteng Konstantinopel selama 50 hari.

Tentu saja, hal ini membuat prajurit dan dirinya sempat putus asa lantaran pengepungan tersebut benar-benar menguras tenaga, waktu, pikiran, hingga perbekalan.

Kerajaan Romawi Timur telah membuat pagar kuat di laut sehingga mustahil bagi musuhnya untuk menyentuh benteng kecuali dengan melewatinya. Hal ini tidak membuat el-Fatih patah semangat.

Pertahanan dari Bizantium ini justru memunculkan strategi perangnya yang sangat cerdas dan luar biasa. Ia memutuskan untuk menggandeng dan melumuri minyak pada 70 kapal besarnya untuk melintasi Galata ke muara dalam waktu kurang dari satu malam.

Keesokan harinya, Kerajaan Romawi Timur panik dan tidak menyangka bahwa pasukan el-Fatih akan menyerang Konstantinopel dengan menyeberangkan kapal-kapal besar mereka melalui jalur darat.

Dengan strategi perang dari el-Fatih yang menakjubkan tersebut, akhirnya benteng pertahanan kekaisaran Romawi Timur pun runtuh. Tembok yang diklaim sebagai simbol kekuatan Bizantium ini pun tak bersisa sehingga secara langsung kota ini jatuh ke tangan kaum muslimin.

El-Fatih yang pada saat itu masih berusia 21 tahun akhirnya memasuki Kota Konstantinopel dan turun dari kudanya untuk melakukan sujud syukur. Setelah itu, Kota Konstantinopel resmi menjadi bagian daerah kekuasaan dari Kerajaan Ustmaniyah.

Pada masa kepemimpinannya, banyak terobosan yang dilakukan untuk memakmurkan kerajaan dan masyarakatnya melalui kecerdasannya.

Selain itu, Sultan Mehmed II ini juga mendirikan bangunan yang penting seperti masjid dengan jumlah lebih dari 300 bangunan, 57 sekolah, hingga 59 tempat pemandian.

Sejarah dari nama Istanbul pun tidak jauh dari perang yang dilakukan oleh el-Fatih ini. Setelah dapat menaklukkan benteng Konstantinopel, ia pun kemudian memasuki gereja terbesar di kota yang indah tersebut.

Gereja Hagia Sophia yang merupakan tempat ibadah pada masa kekaisaran Bizantium kemudian diperintahkannya untuk dijadikan sebagai masjid.

Tidak hanya itu, sebagai simbol kemenangan pasukan dan umat Islam, maka Kota Konstantinopel tersebut kemudian diganti menjadi Islambul yang memiliki arti “Negeri Islam”. Seiring waktu berlalu, Islambul akhirnya disebut dengan Kota Istanbul. [mta]

Sumber: Merdeka.com

BAGIKAN