Khanduri Molod, Tradisi Maulid Nabi SAW di Aceh Terus Meriah

294
Warga Banda Aceh dan sekitarnya menghadiri Maulid Akbar Nabi Muhammad SAW di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, Senin (12/2/2019). (Humas Banda Aceh)

NATUNATERKINI.COM– Tradisi yang baik yang masih berlangsung hingga saat ini di Nanggroe Atjeh Darussalam (NAD) atau Aceh. Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW selalu digelar dengan kenduri. Keduri dengan pesta makan bersama.

Humas Dayah Insan Qur’ani Aceh, Ustadz Muhammad Nasril,  menerangkan arti khanduri molod adalah melahirkan nilai positif, yaitu, ajang memperkuat silaturahim dan untuk perbaikan gizi dengan menu khas yang ada pada musim maulid, dan ini sangat dianjurkan Rasulullah SAW. 

“Inti dari ihtifal maulid ini yaitu momen mengingat, mengatur kembali serta menata tentang kecintaan kita kepada Rasulullah SAW. Ini yang dimaksud sebagai ajang perbaikan ‘gizi’ spritual untuk lebih mencintai dan meneladani Rasulullah,” katanya kepada Republika.co,id, Jumat, (30/10). 

Terkadang, kata Nasril, selama ini kita terus berjalan, tanpa mau mengikuti amalan-amalan dan perkataan-perkataan Rasulullah. Dengan adanya momen semacam ini, satu hikmah paling besar, kita jadikan muhasabah cinta kita kepada Rasulullah SAW dengan meneladani dan menjalankan sunahnya. 

Melalui khanduri molod, umat Islam bisa merajut persaudaraan, merawat kebersamaan. Untuk itu bagi yang membolehkan merayakan khanduri molod, juga berbeda tata caranya sesuai dengan adat daerah masing-masing tak mesti dipermasalahkan. 

“Ada sebagian daerah khanduri di masjid dan di meunasah, masyarakatnya membawa bu kulah, dan ada juga masyarakat membawa nasi kotak,” katanya. 

Di samping para panitia mengundang desa tetangga, di sini juga sudah terbentuk silaturrahim antara satu gampong dengan gampong yang lainnya dan santunan anak yatim. Kemudian di rumah-rumah mengundang sanak famili, tetangga dan kerabatnya untuk berkenan hadir dan menyantap sedikit hidangan dari tuan rumah.  

“Ini tentu hal yang sangat positif untuk menyambung dan mengikat silaturrahim. Kadang saudara yang jauh pun merapat utuk memenuhi undangan,” katanya.

Nasril yang juga penghulu Kantor Urusan Agama (KUA) Kuta Malaka ini menyampaikan, yang perlu diketahui bahwa khanduri molod itu sebagai wasilah atau cara saja, karena berbeda generasi tentu berbeda cara mengungkapkan cinta kepada Rasulullah SAW. “Namun, yang perlu diperhatikan, jangan sampai terjadi kemungkaran karena adanya acara-acara semacam ini,” katanya.

Misalnya, jangan sampai karena alasan menghadiri khanduri, seseorang malah meninggalkan sholat atau khanduri dijadikan ajang unjuk gengsi semata, dan hal-hal lain yang dilarang syariah. 

“Kemungkaran yang mungkin terjadi tersebut, tentunya bertentangan dengan tujuan mulia dilaksanakannya khanduri. Hal ini perlu dihindari  mereka yang menyelenggarakan khanduri molod,” katanya.

Jadi, sebetulnya kata dia, hakikat perayaan Maulid Nabi SAW itu merupakan bentuk pengungkapan rasa senang dan syukur atas diutusnya Nabi Muhammad SAW ke dunia ini yang diwujudkan dengan cara mengumpulkan orang banyak, lalu diisi dengan pengajian keimanan dan keislaman, mengkaji sejarah dan akhlak Nabi SAW untuk diteladani, kemudian di akhir acara dilanjutkan dengan makan-makan bersama.

Ada suatu hal yang membuat sebagian orang menjadi ragu-ragu untuk merayakan peringatan maulid ini, yaitu ketiadaan  perayaan semacam ini pada masa-masa awal Islam yang istimewa (alqurun al ula al mufadhalah). 

Argumen ini, bukanlah alasan yang tepat untuk melarang perayaan itu, karena tidak ada seorang pun yang meragukan kecintaan mereka radhiyallahu ‘an hum terhadap Nabi SAW. 

Namun, kecintaan ini mempunyai cara dan bentuk pengungkapan yang bermacam-macam. Tentu saja bentuk pengungkapan rasa cinta kita kepada Rasulullah, berbeda dengan para sahabat kala itu. 

Berbahagia dan bergembira dengan adanya Nabi Muhammad SAW merupakan ibadah, tapi cara pengungkapan kebahagiaan itu hanya merupakan washilah (sarana) yang diperbolehkan untuk dilakukan. Setiap orang dapat memilih  cara yang paling sesuai  dengan dirinya untuk mengungkapkan hal tersebut.

Di tengah pandemi ini, tetaplah mengikuti prosedur pelaksanaan kegiatan bersama seperti dianjurkan pemerintah, menerapkan protokol kesehatan, menjaga diri dan juga orang lain dari hal membahayakan. Kalau memang tidak memungkinkan  berkumpul  ramai-ramai seperti biasanya, gaungkan maulid secara virtual. 

“Momentum maulid ini mengajarkan kita cara merawat cinta kepada Baginda Rasulullah SAW dan kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara,” katanya.  

Di akhir tausiyah di hari peringatan khanduri molod yang digelar secara virtuao, Nasril mengajak umat Islam untuk memperbanyak shalawat kepada Rasulullah SAW, merajut persaudaraan dan menjaga kebersamaan.  (ron)

sumber: Republika

BAGIKAN