Tarli Nugroho: Politik Editorial

338

NatunaTerkini.com – Bagi sebagian kita, aksi Reuni 212 kemarin merupakan peristiwa besar, baik dilihat dari skala maupun dampak yang bisa diciptakannya.

Belum pernah ada apel akbar sebesar itu, setertib itu, kecuali mungkin di zaman revolusi dulu.

Itu sebabnya, meskipun orang boleh tak merasa sehaluan dengan aspirasi serta pandangan jutaan ummat yang kemarin berkumpul, namun mengecilkan peristiwa tersebut pastilah sebuah kesalahan.

Saya tertarik memperhatikan bagaimana surat kabar kita hari ini dalam melihat peristiwa besar kemarin.

Bagaimana mereka menuliskan dan menempatkan peristiwa tersebut saya kira mewakili pandangan redaksi atas aspirasi, kegelisahan, dan pandangan ummat yang kemarin berkumpul di Monas.

Harian Kompas, yang sering disebut sebagai harian terbesar di tanah air, lebih suka mengangkat isu sampah plastik sebagai headline hari ini.

Selain soal sampah, mereka juga menuliskan laporan tentang KTT G-20 di Argentina serta isu HIV/AIDS di halaman pertama. Tak ada foto apel akbar di Monas.

Berita tentang Reuni 212 baru muncul di halaman 15. Beritanya hanya pendek dan bersifat deskriptif saja.

Harian Media Indonesia, yang dikenal sebagai corong utama pemerintah, selain menurunkan berita tentang KTT G-20, mereka lebih suka menulis PP No. 49/2018 sebagai headline.

Sebagaimana Kompas, tak ada foto peristiwa Reuni 212 di Media Indonesia hari ini.

Namun, Media menurunkan berita tentang Reuni 212 di halaman 2. Judul beritanya mencolok: “Reuni 212 Lancar, Bukti Jokowi Pro-Islam”.

Koran Sindo, milik Hary Tanoesoedibjo, Ketua Umum Perindo yang kini menjadi partai pendukung petahana, juga tidak menurunkan berita tentang Reuni 212 di halaman pertama.

Berita dan foto Reuni 212 baru nongol di halaman 5. Sebagaimana halnya Media Indonesia, Koran Sindo lebih suka mengangkat PP No. 49/2018 sebagai headline.

Sesudah Presiden mengabaikan demonstrasi para guru honorer awal November silam, yang dikecam oleh banyak kalangan, koran-koran corong pemerintah saat ini sepertinya sedang berlomba-lomba memberikan pesan bahwa tahun depan pemerintah akan memperhatikan para guru honorer.

Apakah PP ini bisa membalik persepsi para guru honorer yang telah dikecewakan dan merasa dilecehkan, kita bisa melihatnya nanti, sesudah PP ini dilaksanakan.

Koran Tempo juga tidak menurunkan berita atau foto Reuni 212 di halaman muka. Sebagai headline, Koran Tempo lebih suka mengangkat isu ekonomi digital.

Koran nasional yang menempatkan foto serta berita Reuni 212 di halaman pertama adalah Republika, Jawa Pos, Pikiran Rakyat, Rakyat Merdeka, The Jakarta Post, hampir seluruh koran Tribun yang terbit di daerah, serta sejumlah koran daerah yang cukup besar, seperti Sriwijaya Post, misalnya.

Meskipun demikian, tak semua tone-nya positif. The Jakarta Post, misalnya, membingkai peristiwa reuni kemarin dalam framing politik identitas.

Jika hari ini kita bicara mengenai politik identitas, sayangnya hanya tersedia satu sudut pandang saja, yaitu sudut pandang negatif. Dan sudut pandang tersebut sebenarnya tidak banyak membantu menjernihkan persoalan.

Kalau mau jujur, bukankah penolakan terhadap politik identitas sebagian besar lahir dari prasangka yang basis pemikirannya juga bersifat identitas?!

Sehingga, adu argumen yang berlangsung terkait politik identitas di Indonesia sejauh ini sebenarnya hanyalah soal identitas yang satu berusaha untuk mengekslusi identitas yang lainnya.

Hanya kemasannya saja yang sok canggih, seolah premisnya ditegakkan di di luar isu identitas. Tapi, soal ini kita diskusikan lain kali saja.

Kembali ke soal media, tiap media tentu memiliki politik redaksional yang berbeda-beda. Dan kita kini bisa menilai atau mengira-ngira politik redaksional macam apa yang mereka gunakan.(Sember Facebook Tarli Nugroho)

BAGIKAN